Kekuasaan Oligarki: Habib Rizieq dan Perlawanan

Habib Rizieq. Foto: Riau Online

Fenomena gemuruh umat Islam menyambut kepulangan Habib Rizieq Shihab dari Tanah Suci Mekkah. Bandara Soekarno Hatta penuh lautan umat Islam saat menyambut kedatangan Imam Besar Front Pembela Islam itu, Selasa (10/11/2020).

Fenomena sosiologis ini mengingatkan saya pada akhir tahun 1970-an ketika warga Iran menyambut kepulangan Ayatullah Ruhullah Khumainie setelah beberapa tahun mengasingkan diri di Francis. Saat itu, sosok Khumainie menjadi simbol perlawanan bagi rakyat Iran terhadap penguasa tirani Shah Reza Palevi.

Tulisan ini bukan dalam kapasitas membandingkan antara Rizieq dan Khumainie. Secara sosio-politik, kedua fakta ini ada kesamaan: kerinduan bagi umat yang merindukan sosok kepemimpinan di tengah perasaan keterasingan, kegersangan, dan ketidakberdayaan umat mayoritas di negeri ini.

Sebagai umat mayoritas, ada suasana termarjinalisasi dan keterasingan secara politik dan ekonomi. Perasaan ketidakberdayaan sebagai umat mayoritas. Suasana kebatinan umat yang mayoritas, namun minoritas dalam segala aspek kehidupan politik dan ekonomi.

Pada sis lain, lembaga-lembaga demokrasi dan institusi negara tidak merepresentasikan kepentingan aspirasi dan pikiran umat. Perasaan hopeless dan stateless ini yang disarankan oleh umat mayoritas selama ini.

Realitas keterasingan ini menjadi akumulasi di tengah gemuruh isu-isu demokrasi yang menyakitkan umat Islam. Kehadiran sosok Habib Rizieq itu telah mewartakan fenomena keseimbangan terhadap hegemoni negara yang semakin oligarki.

Menguatnya model kekuasaan oligarki secara pelan-pelan telah mereduksi nilai-nilai demokrasi dan semakin menguatkan fenomena kekerasan politik, kriminalisasi politik, dan politik belah bambu.

Berbagai instrumen atau perangkat undang-undang yang diciptakan untuk membungkam kritisisme warga. Ketimpangan hukum dan pembusukan politik dibiarkan begitu saja atas nama kekuasaan dan stabilitas negara.

Dominasi kebenaran negara menjadi mutlak di tengah ketidakberdayaan rakyat. Kedaulatan rakyat telah digantikan oleh kedaulatan oligarki atau sekelompok elit yang membajak demokrasi.

Fenomena menguatnya oligarki di era demokrasi tentu saja dampaknya lebih dirasakan oleh umat Islam mayoritas di negeri. Arogansi kekuasaan, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan hukum menjadi fakta telanjang di negeri ini.

Fenomena ini sulit untuk dibantah bahwa sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki jaringan kekuasaan politik dan ekonomi.

Lingkaran setan ketidakadilan di tengah negara yang mengklaim diri sebagai negara demokrasi, tapi yang terlihat adalah struktur kekuasaan oligarkis dan feodalisme.

Fenomena ini, bangsa merindukan sosok kepemimpinan yang bisa menjawab kegelisahan dan ketidak berdayaan rakyat saat negara dikuasai para mafia politik atau menyandera negara oleh para oligarki.

Sekuat apa sosok Habib Rizieq sebagai simbol perlawan umat melawan kekuatan oligarki, yaitu sekelompok orang yang mengendalikan negara, membajak demokrasi, dan merampok sumber daya ekonomi negara.

Penulis: Muhammad Uhaib As’ad

Ketua Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Politik Banjarmasin

Dosen FISIP UNISKA Banjarmasin

Avatar

admin

Read Previous

Hari Pahlawan, Aktivis Kalsel Upacara di Puncak Arta

Read Next

Kumuh, Makam Pangeran Antasari Jadi Sorotan

One Comment

    Avatar
  • Habib Reziq memang punya yali keberanian menegakan demokrasi tinggal kelompok mana yang mau dukung, dan bilamana penguasa tidak cepat mengambil hikmah kedatangan beliau maka negara tercinta ini akan kehilangan wibawa, semoga kita tetap damai dan menghargai setiap umat mempunyai hak bersuara. Pandangan DR Uhaib Ashad kita dukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *